27 Oktober 2026

Mediasuarapublik.com

Mengedepankan Profesional Dalam Berita Yang Seimbang Secara Aktual Dan Faktual

Home » Buntut Kabut Asap dan Polemik “Oksigen”, Warga Malaysia Serukan Boikot Produk Indonesia

Buntut Kabut Asap dan Polemik “Oksigen”, Warga Malaysia Serukan Boikot Produk Indonesia

JAKARTA, Mediasuarapublik— Bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia yang menyelimuti wilayah Malaysia berbuntut panjang. Kecewa dengan polusi udara yang tak kunjung usai, sejumlah warga negara tetangga tersebut mulai menggalang aksi boikot terhadap produk-produk konsumsi asal Indonesia.

Kemarahan warga “Negeri Jiran” ini tidak semata-mata dipicu oleh masalah lingkungan. Pernyataan warganet serta Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Syahganda Nainggolan yang menyinggung bahwa Malaysia mendapat pasokan oksigen dari hutan Indonesia, turut menyulut sentimen negatif di tengah masyarakat yang terdampak.

Hasnah AS, salah seorang warga Malaysia, memutuskan untuk berhenti membeli produk asal Indonesia yang selama bertahun-tahun ia konsumsi, seperti kopi Indocafe, teh manis Sosro, hingga santan Kara. Keputusan ini merupakan bentuk protes atas kabut asap dan komentar bernada hinaan di media sosial.

“Saya yakin produk buatan Malaysia sama bagusnya,” kata Hasnah, sebagaimana dikutip The Straits Times, Senin (26/10/2026).

Bagi Hasnah, tindakan ini merupakan langkah yang perlu diambil agar masyarakat dan otoritas Indonesia menyadari dampak dari masalah tersebut. “Jika kita tak memberi mereka pelajaran, mereka tak akan berhenti,” imbuhnya.

Frustrasi serupa tecermin jelas di ruang publik maya. Seorang pengguna Facebook asal Malaysia, Salbiah Ahamand, secara terbuka meminta rekomendasi kepada warganet untuk beralih dari produk santan asal Indonesia. Unggahan tersebut memantik lebih dari 400 komentar, di mana banyak pihak menyarankan penggunaan merek lokal seperti Saji maupun Rasaku.

Pengguna media sosial lainnya, Mohd Fikri, turut menyoroti pernyataan pejabat Indonesia terkait isu oksigen dan mendukung gerakan boikot tersebut. Kolom komentarnya pun dipenuhi dukungan dari warganet lain yang mendesak tindakan serupa.

“Boikot saja mereka. Mereka nyaman-nyaman saja mengihina kita dengan lelucon oksigen,” ujar salah satu warganet dalam unggahan tersebut.

Pendekatan Alternatif

Kendati gerakan boikot konsumen mulai meluas, langkah ini dinilai bukan solusi yang tepat untuk menuntaskan masalah karhutla. Ekonom Barjoyai Bardai memperingatkan bahwa pemboikotan secara serampangan justru berpotensi merugikan perekonomian kedua negara. Tercatat, nilai perdagangan bilateral antara Indonesia dan Malaysia pada tahun lalu menembus 26,6 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 482,2 triliun.

Menurut Barjoyai, tindakan pemboikotan akan jauh lebih efektif jika ditargetkan secara spesifik kepada perusahaan-perusahaan yang terbukti kredibel terlibat dalam pembakaran hutan. Namun, ia menekankan bahwa boikot korporasi tersebut harus dibarengi dengan tekanan dari sektor perbankan, penegakan hukum yang tegas, serta diplomasi antarnegara.

“Tujuan sebenarnya seharusnya bukan untuk memboikot Indonesia sebagai negara, tetapi untuk membuat pembakaran hutan menjadi tidak menarik secara ekonomi dan akuntabilitas perusahaan jadi tak terhindarkan,” ungkap Barjoyai.

Selama beberapa bulan terakhir, kualitas udara di Malaysia memburuk drastis akibat paparan kabut asap karhutla yang bersumber dari wilayah Sumatera hingga Kalimantan. Indeks kualitas udara di negara tersebut bahkan sempat menembus level berbahaya, yang secara langsung mengancam kesehatan publik dan melumpuhkan aktivitas ekonomi masyarakat, terutama para pekerja lapangan. Merespons krisis ekologis lintas batas ini, sejumlah negara tetangga dilaporkan telah menawarkan bantuan penanganan secara kolektif kepada Indonesia. [AH/Red]