12 Agustus 2026

Mediasuarapublik.com

Mengedepankan Profesional Dalam Berita Yang Seimbang Secara Aktual Dan Faktual

Home » Anggaran Dana Desa Semampir Diduga Dikorupsi

Anggaran Dana Desa Semampir Diduga Dikorupsi

3 min read

GRESIK, Mediasuarapublik – Penggunaan anggaran program ketahanan pangan yang bersumber dari Dana Desa Tahun Anggaran 2025 di Desa Semampir, Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik, menjadi sorotan.

Temuan tersebut mencuat setelah Tim Investigasi Aliansi Alam Bersatu Jaya Indonesia (ABJI) bersama Tim Investigasi Media Suara Publik Group melakukan penelusuran terhadap penggunaan anggaran Dana Desa, khususnya alokasi minimal 20 persen untuk program ketahanan pangan.

Berdasarkan data yang dihimpun tim, Desa Semampir pada Tahun Anggaran 2025 memperoleh Dana Desa sekitar Rp832.845.000. Dengan ketentuan alokasi minimal 20 persen untuk program ketahanan pangan, nilai yang diperuntukkan untuk program tersebut diperkirakan mencapai Rp166.569.000.

Tim kemudian mendatangi Kantor Desa Semampir untuk meminta penjelasan mengenai penggunaan anggaran tersebut.

Anggota Bidang Investigasi ABJI, Dimas Tri, mengatakan pihaknya ditemui oleh Sekretaris Desa Semampir. Dalam pertemuan tersebut, pihak desa menjelaskan bahwa anggaran program ketahanan pangan Tahun Anggaran 2025 digunakan untuk pembangunan jalan usaha tani (JUT) berupa jembatan di tiga titik lokasi.

“Kami tadi ditemui oleh Bapak Sekretaris Desa Semampir. Beliau menjelaskan bahwa program ketahanan pangan Tahun Anggaran 2025 diperuntukkan untuk pembangunan JUT berupa jembatan di tiga titik lokasi,” ujar Dimas, Rabu (12/8/2026).

Usai memperoleh keterangan dari pemerintah desa, tim kemudian mendatangi tiga lokasi pembangunan jembatan yang disebut sebagai bagian dari program tersebut.

Temuan Fisik di Tiga Lokasi

Dari penelusuran di lapangan, tim menyebut menemukan bangunan jembatan dengan ukuran fisik yang disebut relatif sama pada ketiga lokasi.

Hasil pengukuran yang dilakukan tim menunjukkan ketebalan bangunan sekitar 13 sentimeter, lebar 197 sentimeter, dan panjang sekitar 770 meter.

“Di tiga titik lokasi pembangunan, kami menemukan bangunan dengan volume yang sama. Berdasarkan pengukuran tim, tebalnya sekitar 13 sentimeter, lebar 197 sentimeter dan panjang 7,70 meter,” kata Dimas.

Menurut perhitungan sementara tim investigasi berdasarkan kondisi fisik yang terlihat, biaya pembangunan satu titik jembatan diperkirakan hanya menghabiskan kurang lebih Rp25 juta. Jika terdapat tiga titik dengan volume yang sama, total biaya fisik berdasarkan estimasi tersebut berada di kisaran Rp75 juta.

Selain persoalan nilai pekerjaan, tim investigasi juga mempertanyakan penggunaan program ketahanan pangan untuk pembangunan fisik berupa jembatan.

“Sesuai Keputusan Menteri Desa PDT Nomor 3 Tahun 2025. Anggaran ketahanan pangan tahun 2025 diarahkan untuk pengembangan potensi hewani dan nabati serta disalurkan melalui penyertaan modal atau penguatan kelembagaan ekonomi desa seperti BUM Desa, bukan untuk proyek pembangunan fisik murni,” tandasnya.

Tim Temukan Rabat Beton di Dusun Semampir

Penelusuran tim tidak berhenti pada pembangunan tiga jembatan.

Tim investigasi juga mendatangi lokasi pengerjaan rabat beton di Dusun Semampir yang disebut bersumber dari Dana Desa Tahun Anggaran 2025.

Menurut keterangan Sekretaris Desa Semampir yang disampaikan kepada tim, pembangunan rabat beton tersebut menghabiskan anggaran sekitar Rp70 juta.

“Dari keterangan Sekretaris Desa, anggaran untuk pembangunan rabat ini menghabiskan sekitar Rp70 juta dengan volume panjang 130 meter, lebar 4 meter dan tebal 15 centimeter,” ujar Dimas.

Namun, ketika berada di lokasi, tim mengaku tidak menemukan papan informasi kegiatan maupun prasasti yang dapat memberikan informasi mengenai nilai anggaran, volume pekerjaan, sumber dana, maupun pelaksana kegiatan.

Tim kemudian melakukan pengukuran terhadap kondisi fisik jalan.

“Saat melakukan pengukuran kami menemukan bangunan ini memiliki rata-rata ketebalannya hanya 12 samapi 13 centi meter, kami juga menduga ini sisi tengah dari bangunan rabat ini tidak sesuai, karena kami menemukan banyak sekali keretakan dibagian tengah meski ini baru dikerjakan pada 2025 lalu,” jelas Dimas.

Dimas juga mengungkapkan, pihaknya memperoleh keterangan dari sejumlah warga di sekitar lokasi yang menyebut bahwa pembangunan rabat beton tersebut diduga hanya berupa penambahan atau penumpukan lapisan beton di atas jalan yang sebelumnya sudah ada.

Kondisi Rabat

Menurut keterangan warga yang dihimpun tim, kondisi jalan tersebut kini telah mengalami retak di sejumlah titik meskipun pembangunan baru dilakukan pada Tahun Anggaran 2025.

“Dari keterangan warga, pembangunan ini hanya ditumpuk sedikit di atas jalan yang sebelumnya sudah ada. Warga juga mempertanyakan kualitas pengerjaannya karena belum lama selesai, tetapi sekarang sudah banyak ditemukan retakan di sejumlah bagian,” ujar Dimas.Dengan ukuran tersebut, tim mempertanyakan kesesuaian antara kondisi fisik pekerjaan dengan anggaran sekitar Rp70 juta yang disebutkan sebelumnya. [As’ad/Dms/Ony]