Mentan Amran Turun Langsung Cek Sawah Kekeringan di Gresik, Pemerintah Siapkan Pompa dan Jaringan Air
2 min read
GRESIK, Mediasuarapublik Pijarnusantara — Menteri Pertanian (Mentan) Republik Indonesia Andi Amran Sulaiman turun langsung ke areal persawahan di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, untuk memastikan kondisi lahan pertanian yang terdampak kekeringan akibat musim kemarau.
Amran meninjau persawahan di Dusun Ngablak, Desa Munggugiyanti, Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik, Selasa (11/8/2026). Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi tanaman sekaligus memastikan kebutuhan petani di tengah keterbatasan pasokan air.
Kementerian Pertanian mencatat sekitar 229,9 hektare lahan pertanian di Jawa Timur terdampak kekeringan. Dari jumlah tersebut, sekitar 19,2 hektare berada di Kabupaten Gresik.
“Sekitar 229,9 hektare lahan pertanian di Jawa Timur terdampak kekeringan. Salah satunya di Kabupaten Gresik, yakni 19,2 hektare,” ujar Amran saat berada di lokasi.
Menurutnya, luasan lahan yang terdampak tersebut tidak boleh dipandang sebelah mata. Pemerintah, kata dia, harus bergerak cepat memberikan solusi agar kekeringan tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih serius bagi produksi pangan.
“200-an hektare ini tidak boleh kita anggap remeh. Sekecil apa pun, kita harus memberikan solusi di lapangan,” tegasnya.
Dua Skema Penanganan Kekeringan
Untuk mengantisipasi dampak kekeringan, pemerintah menyiapkan dua skema utama berdasarkan kondisi sumber air di sekitar lahan pertanian.
Pertama, bagi lahan yang masih memiliki sumber air di sekitar area persawahan, pemerintah akan memberikan bantuan pompa untuk mengalirkan air menuju lahan yang membutuhkan.
Amran menegaskan bantuan tersebut akan diberikan secara cepat tanpa proses birokrasi yang berbelit.
“Yang ada sumber air dekat sawah yang kekeringan, kita berikan pompa langsung. Tidak ada basa-basi, tidak ada birokrasi panjang, langsung kita berikan pompa,” ujarnya.
Sementara itu, untuk lahan yang tidak memiliki sumber air memadai atau hanya mengandalkan sumur dangkal, pemerintah menyiapkan alternatif berupa jaringan selang dan pipa untuk mengalirkan air menuju persawahan.
“Yang kedua, yang tidak ada sumber air atau sumurnya dangkal, kita alirkan air dari selang atau pipa seperti ini. Jadi kita memitigasi risiko kekeringan,” kata Amran.
Produksi Beras Jatim Disebut Tetap Aman
Langkah mitigasi tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah menjaga produktivitas pertanian nasional sekaligus mengantisipasi dampak musim kemarau terhadap sektor pangan.
Amran memastikan pemerintah akan terus berupaya menjaga lahan pertanian tetap produktif selama musim kemarau.
“Kita harus tetap berusaha keras untuk memitigasi risiko kekeringan yang terjadi tahun ini. Insyaallah aman,” katanya.
Di sisi lain, Amran menyebut stok beras di Jawa Timur saat ini masih dalam kondisi aman. Produksi beras Jawa Timur bahkan disebut telah mencapai sekitar 1,3 juta ton, yang menurutnya merupakan capaian tertinggi sepanjang sejarah.
Kunjungan Mentan ke Gresik sekaligus menunjukkan bahwa persoalan ketersediaan air untuk pertanian menjadi perhatian serius pemerintah. Intervensi berupa pompa, jaringan pipa, dan distribusi air diharapkan mampu menjaga tanaman tetap tumbuh serta mengurangi potensi kerugian petani akibat kekeringan.
Bagi petani, kehadiran pemerintah secara langsung di lapangan menjadi sinyal bahwa persoalan air tidak hanya dilihat sebagai persoalan teknis, tetapi juga sebagai bagian penting dari upaya menjaga ketahanan pangan nasional di tengah perubahan kondisi cuaca dan musim kemarau. [Eko NH]
