Ratusan Santri Jadi Korban Ambruknya Musala Ponpes Al Khoziny, 63 Jiwa Tak Terselamatkan
4 min read
SIDOARJO, Mediasuarapublik – Bangunan musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny Sidoarjo ambruk pada Senin (29/9/2025) sekitar pukul 14.40 WIB, ketika para santri tengah melaksanakan salat Asar berjamaah. Insiden terjadi saat proses pengecoran bangunan tengah berlangsung.
Sebanyak 140 santri berada di dalam musala saat kejadian. Dari jumlah tersebut, 102 orang berhasil dievakuasi, tiga santri meninggal dunia, sementara 38 lainnya sempat terjebak di bawah reruntuhan.
Pengasuh Ponpes Putra Al Khoziny, KH. Raden Abdus Salam Mujib, menjelaskan bahwa proses pengecoran bangunan sudah rampung pada siang hari. Menurutnya, bangunan yang roboh itu rencananya akan dibuat tiga lantai, dengan lantai pertama sebagai musala, sementara lantai dua dan tiga difungsikan sebagai balai pertemuan.
“Proses pengecoran dari pagi. Siang sudah selesai,” kata Salam, Senin (29/9/2025).
Ia menambahkan, renovasi bangunan sudah berlangsung selama beberapa bulan dan yang ambruk merupakan tahap akhir dari keseluruhan proses renovasi. Salam menduga, struktur bangunan tidak cukup kuat menahan beban setelah proses pengecoran sehingga menyebabkan musibah tersebut.
Berdasarkan data Tim SAR, jumlah korban meninggal dunia akibat ambruknya musala Ponpes Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, mencapai 63 orang. Selain itu, terdapat 104 korban selamat, dengan rincian empat orang sudah selesai menjalani perawatan, 99 orang masih dirawat, dan satu orang tidak memerlukan perawatan medis.
Kabiddokkes Polda Jatim, Kombes Pol dr. M. Khusnan Marzuki, memastikan seluruh jenazah korban telah teridentifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jatim.
“Sudah selesai semuanya karena malam ini seluruh jenazah akan kami serahkan ke keluarga masing-masing. Sesuai dengan identitas yang telah terverifikasi,” kata Khusnan, Rabu (15/10/2025).
Tim SAR gabungan bersama BNPB mengerahkan personel dan sejumlah alat berat untuk mempercepat proses evakuasi setelah masa golden time berakhir. Kepala BNPB, Letjen TNI Dr. Suharyanto, menyebut penggunaan alat berat dilakukan dengan persetujuan keluarga korban.
“Evakuasi dengan alat berat dilakukan penuh kehati-hatian, dengan tetap menghormati keberadaan korban di reruntuhan,” kata Bramantyo dalam konferensi pers, Kamis (2/10/2025).
Basarnas menurunkan sedikitnya 219 personel evakuasi, 300 kantong jenazah, 30 unit dump truk, 30 ambulans, serta lima alat berat yang dioperasikan secara bertahap.
“Hari ini evakuasi korban akan menggunakan alat berat. Kesepakatan ini sudah disetujui bersama dengan keluarga korban,” katanya.
Seorang santri yang berhasil selamat mengisahkan detik-detik mengerikan saat bangunan tiba-tiba roboh. Ia mengaku menyelamatkan diri dengan merangkak melalui celah reruntuhan.
“Bangunan tiba-tiba roboh waktu kami masuk rakaat ketiga menuju rakaat keempat. Semua orang panik, berusaha lari,” katanya kepada RRI, Selasa (30/9/2025).
“Saya beruntung menemukan celah di reruntuhan, merangkak, lalu bisa keluar. Saya hanya berharap teman-teman lain yang masih tertimbun segera bisa diselamatkan,” ujarnya.
Dalam proses pencarian, Tim SAR sempat berhasil berkomunikasi dengan dua korban bernama Yusuf dan Haikal yang masih terjebak. Kondisi mereka diketahui sadar, namun ruang evakuasi sangat sempit.
“Oke semangat ya, sabar, sabar ya nak ya. Aku Aziz dari Rescue Surabaya, ini usaha,” kata Aziz dalam video yang beredar di media sosial.
Yusuf akhirnya berhasil dievakuasi pada Selasa (30/9/2025) pukul 01.58 WIB, sementara Haikal belum bisa dikeluarkan dari reruntuhan.
Guru Besar Teknik Sipil dan Dekan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Mochamad Solikin, S.T., M.T., Ph.D., menilai bahwa kegagalan konstruksi dapat terjadi pada berbagai jenis bangunan, baik sederhana maupun bertingkat.
“Meskipun bangunan tampak sederhana. Kegagalan tetap bisa terjadi jika perencanaan dan pelaksanaan tidak sesuai dengan kaidah konstruksi,” katanya pada Minggu (5/10/2025).
Ia menjelaskan bahwa penyebab pasti perlu diketahui melalui forensic engineering — pemeriksaan teknis menyeluruh seperti autopsi dalam dunia medis. Dari sana dapat ditentukan apakah penyebab kegagalan berasal dari tahap desain, material, atau pelaksanaan.
Solikin menekankan pentingnya pemeriksaan detail terhadap dokumen desain, termasuk pondasi, dimensi struktur, serta kualitas baja tulangan. Ia juga menegaskan bahwa beton baru dicor tidak boleh langsung dibebani.
“Umumnya beton plat dan balok baru boleh dibuka setelah 21 hari. Kalau lebih cepat, risikonya sangat tinggi,” katanya.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah siap membantu pembangunan ulang Ponpes Al Khoziny Sidoarjo, dengan catatan menunggu persetujuan dari Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Abdul Muhaimin Iskandar.
“Persetujuan bukan di saya, tapi di Pak Muhaimin, tapi yang jelas, Menteri Pekerjaan Umum sanggup, saya juga sanggup. Tinggal persetujuan dari Pak Muhaimin saja,” kata Purbaya dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (17/10/2025).
“Kalau saya lampunya hijau terus, modenya mode belanja. Asal belanjanya pas, tepat sasaran, tepat waktu, tidak ada masalah kalau Menko Muhaimin setuju,” katanya.
Anggota Komisi V DPR RI Fraksi PKB, Sudjatmiko, menilai bahwa secara teknis, bangunan tidak mungkin roboh tiba-tiba jika perencanaan dan pelaksanaannya sesuai standar.
“Kejadian ini menjadi pelajaran bahwa tidak boleh lagi ada nyawa melayang. Ini akibat pembangunan yang dilakukan tanpa perencanaan memadai,” ujar Sudjatmiko, Sabtu (4/10/2025).
Ia menegaskan pentingnya penerapan prinsip keselamatan konstruksi pada pembangunan fasilitas pendidikan berbasis komunitas seperti pesantren.
“Artinya, setiap kesalahan teknis bukan hanya soal bangunan roboh. Melainkan juga soal nyawa manusia yang dipertaruhkan,” katanya.
Sudjatmiko juga merekomendasikan sejumlah langkah perbaikan:
1. Melibatkan Ahli Sejak Awal: Pembangunan harus melibatkan konsultan teknik sipil dan arsitek berizin, dengan perhitungan struktur sesuai standar nasional (SNI).
2. Menetapkan Standar Mutu Material dan Pengujian: Seluruh bahan dan metode uji harus mengikuti SNI 1726:2019 tentang ketahanan gempa.
3. Audit Kelayakan Bangunan: Pemerintah daerah bersama asosiasi profesi teknik sipil perlu melakukan audit terhadap bangunan pesantren yang menampung banyak santri.
4. Regulasi Lebih Tegas: Setiap pembangunan wajib memiliki izin dan pengawasan profesional agar tidak ada lagi proyek tanpa IMB atau perhitungan struktur.
5. Edukasi dan Sosialisasi: Ponpes perlu diberikan pemahaman mengenai pentingnya keselamatan konstruksi sebagai tanggung jawab moral dan spiritual.
6. Dana Khusus Renovasi dan Standarisasi: Pemerintah disarankan menyiapkan skema bantuan bagi pesantren yang ingin membangun sesuai standar teknis, demi keselamatan para santri. [SKR/Red]
