Fosil Gajah Purba Berusia 800 Ribu Tahun Ditemukan di Nganjuk
2 min read
NGANJUK, Mediasuarapublik – Dunia arkeologi dan paleontologi Indonesia kembali mencatat sejarah dengan ditemukannya fosil gajah purba Stegodon di kawasan Hutan Tritik, Desa Tritik, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.
Tim ekskavasi gabungan berhasil menemukan kerangka utuh mamalia raksasa tersebut. Berdasarkan perkiraan awal, fosil ini telah terkubur selama sekitar 800.000 tahun, menjadikannya salah satu temuan penting untuk menyingkap kehidupan prasejarah Pulau Jawa pada masa Pleistosen Tengah.
Penemuan ini merupakan hasil kolaborasi antara Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Museum Geologi Bandung, Pemerintah Kabupaten Nganjuk melalui Disporabudpar, serta Komunitas Pecinta Sejarah dan Ekologi Nganjuk (Kota Sejuk).
Kawasan hutan Tritik memang dikenal memiliki nilai geologis tinggi dan menyimpan banyak situs purbakala. Menurut Unggul Prasetyo Wibowo, Kepala Penyelidikan dan Konservasi Koleksi Badan Geologi Kementerian ESDM, temuan kali ini memiliki keunikan tersendiri dibandingkan penemuan sebelumnya.
“Kami sudah melihat karakter gigi gajah purba Stegodon. Ini terindikasi kuat merupakan kerangka gajah purba Stegodon dalam konteks satu individu yang cukup lengkap. Kami berharap ini menjadi satu jendela yang cukup lengkap untuk penelitian di masa depan,” ujar Unggul di lokasi ekskavasi.
Fosil tersebut diidentifikasi sebagai Stegodon trigonocephalus, nenek moyang gajah modern yang dahulu hidup di kawasan Asia Tenggara. Tim menemukan beberapa bagian penting seperti rahang bawah beserta gigi, sepasang tulang panggul, satu gading, beberapa tulang rusuk, serta bagian tulang kaki.
Rahang dan gigi menjadi komponen utama dalam proses identifikasi spesies serta menentukan usia fosil. Perkiraan usia 800.000 tahun didasarkan pada analisis lapisan batuan sedimen tempat fosil terkubur, yang berasal dari zaman Pleistosen, sejalan dengan masa hidup Stegodon di Jawa.
Meski sering disamakan dengan gajah, Stegodon memiliki ciri khas tersendiri. Ukurannya lebih kecil dari mamut namun lebih besar dari gajah modern, dengan gading lurus dan struktur gigi yang unik.
Penemuan rangka hampir lengkap ini memberi informasi penting bagi para ilmuwan untuk merekonstruksi ekosistem dan kondisi lingkungan purba Nganjuk ratusan ribu tahun silam. Proses ekskavasi diperkirakan berlangsung sekitar sepuluh hari, dengan fokus utama pada penyelamatan dan konservasi fosil agar tetap terjaga keutuhannya.
Setelah dievakuasi, fosil akan menjalani proses konservasi dan penelitian lanjutan secara mendalam. Pemerintah Kabupaten Nganjuk menyambut baik temuan ini dan berkomitmen mendukung kegiatan ilmiah berikutnya.
Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi, menyatakan bahwa penemuan tersebut membuktikan kekayaan geologis luar biasa yang dimiliki wilayahnya. Rencananya, fosil Stegodon ini akan dijadikan koleksi unggulan di Museum Prasejarah Desa Tritik yang saat ini tengah dipersiapkan oleh Pemkab Nganjuk.
Museum tersebut nantinya diharapkan berfungsi sebagai pusat penelitian, edukasi publik, dan pengembangan pariwisata geologi, sehingga masyarakat serta kalangan akademisi dapat lebih mudah mempelajari warisan prasejarah daerah tersebut.
Temuan rangka utuh Stegodon ini tidak hanya memperkaya koleksi fosil nasional, tetapi juga mempertegas posisi Jawa Timur sebagai salah satu wilayah paleontologi terpenting di dunia. [Andk/Red]
