107 Ribu Hektare Hutan dan Lahan Terbakar, Pemerintah Siaga Hadapi El Nino
4 min read
JAKARTA, Mediasuarapublik — Pemerintah meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius di tengah musim kemarau dan ancaman fenomena El Nino yang diperkirakan masih berlangsung hingga September atau Oktober 2026.
Presiden Prabowo Subianto telah meminta seluruh jajaran pemerintah memperkuat langkah penanganan karhutla. Upaya pemadaman dan pencegahan diminta dilakukan secara cepat, maksimal, serta melibatkan koordinasi lintas kementerian dan lembaga.
Pemerintah juga mulai menyiapkan langkah antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya El Nino dengan intensitas ekstrem yang belakangan disebut sebagai El Nino “Godzilla”.
Istilah tersebut muncul setelah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan adanya kemungkinan kombinasi positif antara El Nino Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD). Kondisi tersebut berpotensi memperkuat dampak kekeringan di berbagai wilayah Indonesia.
Istilah El Nino “Godzilla” sendiri pertama kali diperkenalkan ilmuwan NASA Bill Patzert pada 2015 untuk menggambarkan fenomena El Nino dengan kekuatan sangat besar yang mampu memberikan dampak luas terhadap kondisi iklim global.
Ketika fenomena tersebut terjadi, pola pembentukan awan hujan dapat bergeser menjauhi wilayah Indonesia. Dampaknya, sejumlah daerah berpotensi mengalami penurunan curah hujan secara signifikan sehingga kondisi lahan menjadi semakin kering dan mudah terbakar.
Lebih dari 107 Ribu Hektare Terbakar
Besarnya ancaman karhutla terlihat dari luas wilayah yang telah terdampak kebakaran. Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago menyebut luas hutan dan lahan yang terbakar di Indonesia telah mencapai lebih dari 107.000 hektare.
Djamari mengatakan kebakaran tersebut berlangsung ketika sebagian wilayah Indonesia masih menghadapi kondisi kering akibat pengaruh El Nino yang diperkirakan bertahan hingga beberapa bulan ke depan.
“Sampai dengan hari ini, wilayah kita di Indonesia ini yang terbakar hutan terhitung 107.000 hektar lebih,” ungkap Djamari, saat ditemui usai rapat koordinasi dengan kementerian/lembaga terkait di Kemenko Polkam, Jakarta, Senin (10/8/2026).
Pemerintah Kerahkan Berbagai Upaya
Untuk mencegah kebakaran semakin meluas, pemerintah menggunakan sejumlah metode penanganan. Langkah tersebut mencakup pemantauan titik panas, operasi modifikasi cuaca (OMC), pengerahan water bombing, serta penggunaan helikopter dan pesawat untuk membantu proses pemadaman.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan pemerintah terus memantau kondisi karhutla di sejumlah daerah yang mengalami cuaca kering.
“Dalam rangka atau dari masa El Nino ini, masih banyak terjadi karhutla-karhutla di sebagian wilayah Indonesia. Beberapa yang sangat banyak jumlah titik api adalah di Kalimantan Barat dan di Kalimantan Tengah, dan yang cukup besar terjadi di Jawa Timur, di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru,” ujar Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin.
Pemerintah pusat juga terus menjalin koordinasi dengan pemerintah daerah dan lembaga terkait untuk mempercepat pemadaman. Koordinasi tersebut diharapkan dapat mencegah titik kebakaran berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
OMC Tak Bisa Dilakukan di Semua Wilayah
Prasetyo menjelaskan pemerintah telah melakukan pembahasan bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai kemungkinan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca.
Namun, pelaksanaan OMC tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Kondisi teknis dan faktor cuaca menjadi pertimbangan utama dalam menentukan apakah operasi tersebut dapat dilakukan di suatu wilayah.
Meski demikian, pemerintah memastikan berbagai perkembangan karhutla tetap dipantau. Sejumlah sarana pendukung pemadaman juga disiapkan untuk digunakan sesuai kebutuhan di lapangan.
“Semua dimonitor kemudian peralatan-peralatan termasuk *water bombing*, helikopter, dan pesawat-pesawat yang dapat membantu untuk mengatasi karhutla sesuai dengan petunjuk dan perintah Bapak Presiden tadi malam, hari ini semua kami koordinasikan,” ujar Prasetyo.
Selain mengerahkan aparat dan peralatan, pemerintah meminta masyarakat ikut berperan dalam mencegah munculnya kebakaran selama musim kemarau.
Prasetyo mengingatkan bahwa kondisi lahan yang kering membuat percikan api kecil sekalipun dapat berkembang menjadi kebakaran apabila tidak segera ditangani.
“Kami mohon dengan sangat kepada seluruh masyarakat untuk kita mawas diri, menghindari melakukan sesuatu yang berpotensi menimbulkan kebakaran-kebakaran yang tidak terkendali,” imbuh dia.
Kebakaran Bromo Disebut Tinggal Dua Titik
Sementara itu, kondisi kebakaran di kawasan Gunung Bromo dilaporkan mulai menunjukkan perkembangan positif. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengatakan jumlah titik api di kawasan tersebut telah berkurang setelah dilakukan pemadaman menggunakan bantuan udara.
Menurut Suharyanto, sebelumnya terdapat 34 titik api di kawasan Bromo. Setelah tiga helikopter dikerahkan untuk membantu pemadaman, jumlah tersebut disebut berkurang menjadi hanya dua titik.
“Seperti Bromo, kita kerahkan tiga heli (helikopter) dan langsung bisa mengatasi, dari 34, tinggal 2 titik (api),” kata Suharyanto, saat ditemui Kemenko Polkam, Jakarta, Senin.
Namun, Suharyanto belum menjelaskan secara rinci kondisi terkini dari dua titik api yang masih tersisa di kawasan tersebut.
Di wilayah lain, pemerintah juga melaporkan sejumlah kebakaran telah berhasil ditangani. Menko Polkam Djamari Chaniago mengatakan kebakaran di kawasan Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat, telah berhasil diatasi.
“Kemudian di Jawa Barat juga sudah selesai, di Gunung Gede Pangrango di situ itu pun sudah selesai (diatasi),” ujar dia.
Djamari juga menyampaikan bahwa penanganan kebakaran di kawasan Gunung Rinjani telah dinyatakan selesai.
Pemerintah memastikan pemantauan dan penanganan karhutla tetap dilanjutkan di berbagai wilayah, terutama daerah yang masih menghadapi kondisi cuaca kering dan memiliki potensi tinggi terjadinya kebakaran. [AH/Red]
