Mediasuarapublik.com

Mengedepankan Profesional Dalam Berita Yang Seimbang Secara Aktual Dan Faktual

Home » RI Cetak Rekor Impor Beras Ditengah Menurunnya Produksi Beras Dalam Negeri

RI Cetak Rekor Impor Beras Ditengah Menurunnya Produksi Beras Dalam Negeri

3 min read

JAKARTA, Mediasuarapublik – Kondisi produksi beras dalam negeri semakin menurun pada setiap tahunnya. Hal tersebut terjadi hampir di seluruh wilayah sentra produksi, sementara impor beras RI malah mencetak rekor tertinggi pada 2023.

Padahal, Indonesia pernah mencapai swasembada beras di zaman Orde Baru Soeharto. Capaian ini bahkan menginspirasi banyak negara, salah satunya India yang kini jadi pemasok beras dunia. 

Lahan Hingga Produksi Beras Terus Menurun

Berdasarkan data yang diumumkan pada Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah tahun 2024 menunjukkan angka sementara untuk produksi beras untuk periode 2023 terpantau turun nyaris di seluruh wilayah sentral produksi.

Penurunan terdalam terjadi di pulau Sulawesi sebesar 270 ribu ton yang setara -6,28 persen yoy menjadi 4 juta ton, kemudian diikuti pulau Jawa yang turun 380 ribu ton, setara -2,18 persen yoy menuju posisi 17,28 juta ton dan Sumatera turun 0,19 persen yoy menjadi 6,47 persen. Sebagai catatan, tiga pulau besar tersebut merupakan basis produksi terbesar RI, Jawa menyumbang paling besar dengan porsi 55,95 persen, diikuti Sumatera sebesar 20,95 persen dan Sulawesi sebesar 12,94 persen.

Secara historis dalam lima tahun terakhir, produksi beras untuk konsumsi juga ternyata selalu turun. Berdasarkan data BPS, angka sementara produksi beras untuk 2023 berada di 30,9 juta ton, nilai ini turun 2,05 persen atau setara 645,09 ribu ton dibandingkan produksi beras tahun sebelumnya sebesar 31,54 juta ton.

Penurunan produksi beras ini juga sejalan dengan luas panen padi yang turun terus dalam kurung waktu lima tahun terakhir (2018 – 2023). Ini menunjukkan hasil panen padi yang kemudian diolah menjadi beras semakin menyusut.

Plt. Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti memperingatkan akan adanya potensi defisit beras yang semakin melebar berdasarkan selisih antara perkiraan produksi dan konsumsi setiap bulannya.

Impor Beras Lagi Sulit, RI Malah Cetak Rekor

Ekonom Senior The Indonesia Economic Intelligence, Sunarsip mengatakan Indonesia memang perlu mewaspadai potensi defisit produksi beras. “Soal defisit beras, kita perlu waspada ya karena El Nino masih terjadi,” ungkap Sunarsip.

Kondisi iklim akibat El Nino yang jadi tidak menentu masih bisa mempengaruhi produksi beras, imbasnya jika nilainya semakin turun maka pasokan untuk kebutuhan konsumsi dalam negeri juga akan berkurang. Alhasil, untuk memenuhi pemerintah mengharuskan impor beras.

Selain itu, Sunarsip juga mengungkapkan bahwa impor beras sebenarnya juga tidak mudah saat ini. Hal tersebut dikarenakan negara-negara produsen beras dunia seperti India juga membatasi ekspor beras mereka.

“Alasan mereka adalah untuk menjaga keamanan pangan di dalam negeri mereka,” tegas Sunarsip.

Untuk itu, Sunarsip menilai jika pemerintah ingin menutup defisit beras tersebut dengan impor maka sudah menjadi langkah yang positif terutama untuk menjaga pasokan beras di dalam negeri serta menurunkan inflasi pangan.

Namun, kondisi saat ini impor RI hingga akhir 2023 malah mencatatkan rekor tertinggi dalam lima tahun terakhir, mencapai 3,06 juta ton, menurut data BPS.

“Selama 5 tahun terakhir impor beras di 2023 ini merupakan yang terbesar,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Senin (15/1/2024).

Angka impor tersebut mengalami peningkatan 613,61 persen dibandingkan 2022. Pada 2022 Indonesia mengimpor beras sebanyak 429 ribu ton, dan pada 2021 sebesar 407,7 ribu ton, 356 ribu ton pada 2020 dan 444 ribu ton pada 2019.

Perkembangan Impor Beras RI

lebih lanjut, Pudji merinci jenis beras yang paling banyak diimpor Indonesia adalah semi milled or wholly milled rice dengan volume impor 2,7 juta ton atau sekitar 88,18 persen. Lalu, broken rice, other than of a kind dengan volume impor 345 ribu ton atau sekitar 11,29 persen dari total impor.

Selanjutnya ada Basmati rice, semi-milled or wholly milled rice dengan volume 7.133 ton atau 0,23 persen; other fragrant rice, semi milled 6.950 ton (0,23 persen); dan glutinous rice 1.300 ton (0,02 persen).

Impor beras terbanyak berasal dari Thailand, yaitu 1,38 juta ton atau mencakup 45,12 persen dari total impor beras. Disusul oleh Vietnam dengan 1,14 juta ton (37,47 persen); Pakistan 309 ribu ton (10,10 persen); Myanmar dengan 141 ribu ton atau sekitar 4,61 persen, dan dari negara lainnya 83 ribu ton atau sekitar 2,70 persen. [AH]