SMKN 1 Ketungau Tengah Membutuhkan Perhatian Khusus Dari Pemerintah
3 min read
SINTANG (KALBAR), Mediasuarapublik – Sekolah menengah kejuruan (SMK) Negeri 1 Ketungau Tengah, Kabupaten Sintang yang mulai melakukan proses belajar mengajarnya pada tahun 2007 silam, salah satu lembaga sekolah yang saat ini mulai melakukan penerimaan murid baru.

Kepala Sekolah (Kepsek), Suryadi saat ditemui di ruang kerjanya menjelaskan, jika saat ini SMKN 1 Ketungau Tengah, yang memiliki 32 lokal ruangan belajar, dengan memiliki 6 jurusan yang dapat dipilih yaitu, ATP, TKJ, OTKP, TKRO, TBSM dan Multimedia.
“Untuk Jumlah murid 900 orang lebih, mereka tidak hanya berasal dari Ketungau tengah melainkan banyak juga dari kecamatan lain diantaranya Ketungau hulu, Ketungau hilir dan Binjai bahkan ada juga dari kabupaten lain seperti Kapuas Hulu dan Sekadau,” kata Suryadi, Kamis (02/02/2023).
Dari tahun ke tahun, kata Suryadi, peminat dan pendaftar dilembaga yang ia pimpin selalu meningkat, hal tersebut dikarenakan banyaknya informasi positif yang diterima oleh para calon anak didik.
“Seringnya mereka (calon peserta didik) mendapat informasi dari alumni diluaran sana, mengingat tamatan dari sekolah ini rata-rata telah mendapatkan pekerjaan baik itu di perkantoran, seperti kantor camat, kantor desa termasuk juga perusahaan-perusahaan yang tersebar di sekitar Kabupaten Sintang maupun di kabupaten lain,” ujar Suryadi.

Selain itu, Suryadi menambahkan, untuk kelengkapan proses belajar mengajar secara umum tidak menemukan kendala adapun, sedikit kekurangan disana sini kami bersama dewan guru masih mampu mengatasi namun ada beberapa hal yang diluar kemampuan kami dalam mengatasi.
“Pertama masalah jaringan internet. hal ini cukup mengganggu dalam proses belajar dan mengajar mengingat sering gangguan bahkan hilang sama sekali. Kedua masalah penerangan (listrik) yang mana semenjak 16 tahun sekolah ini berdiri jaringan listrik belum sampai kesini. sebagai mana kita ketahui listrik ini sangat vital disamping sebagai sarana penunjang dalam proses belajar dan praktek terutama untuk keamanan dimalam hari apalagi sekolah kita ini jauh dari keramaian dan rumah penduduk,” ungkap Suryadi.
“Selama ini untuk kondisi tertentu kami terkadang menggunakan penerangan sendiri memakai mesin genset tapi kan biaya operasionalnya sangat besar ditambah lagi rentan dengan kerusakan,” tambahnya.

Ketiga, lanjut Suryadi, menjadi hal yang paling darurat adalah infrastruktur jalan apalagi beberapa tahun terakhir ini curah hujan sangat tinggi.
“Ada dua jalan dari ibukota kecamatan menuju ke sekolahan ini namun dua-duanya kurang lebih kondisinya. untuk anak-anak dan guru yang jalan kaki sepatu masuk kantong, celana digulung selutut sampai di sekolah cuci kaki baru sepatu dipasang. Sementara yang menggunakan sepeda motor paling setengah jalan kemudian motor ditinggalkan di pinggir jalan, ratusan sepeda motor terparkir dipinggir jalan yang sepi terkesan barang tanpa harga,” kata Suryadi.
“Tentu hal ini juga berdampak kepada konsentrasi anak-anak dalam belajar dengan bercabang nya pikiran mereka terhadap keamanan dan keselamatan kendaraan yang terpaksa ditinggalkan di sembarang tempat di karenakan sudah tidak mampu berjalan akibat lumpur dan licin,” lanjutnya.
Sementara itu, Thomas, mantan Kades Senangan Kecil yang sekarang menjabat sebagai anggota komite juga mengungkapkan keprihatinannya .
“Saya sangat prihatin dan sedih melihat jalan menuju SMK ini, bagaimana tidak, 77 tahun lebih Indonesia merdeka masih ada jalan kesekolah kayak begini tidak lebih dari jalan ke Huma ( jalan ke ladang ) padahal panjang jalan ini cuman sekitar 1,5 km. masak iya sih di negara kita yang sangat kaya ini pemerintah tidak mampu menyediakan jalan yang layak buat anak bangsa ini…?,” kata Thomas.
“Saya sering menyaksikan guru2 dan anak murid pulang pergi melintasi kebun2 karet orang yang ada di kiri kanan jalan, walau kaki beresiko kena Tunggul dan duri mau bagaimana lagi dari pada melewati jalan licin dan berlumpur yang berakibat bisa jatuh dan telentang kan lebih bahaya lagi, begitu jawaban anak2 ketika ditanya mengapa tidak lewat jalan yang ada,” lanjut Thomas.
Selain itu Thomas juga mengungkapkan, jika sampai saat ini SMKN 1 Ketungau Tengah belum teraliri oleh listrik.
“Rasanya tidak masuk akal di gedung yang lumayan besar dan cukup megah ini sudah belasan tahun belum terjangkau jaringan listrik kalau dihitung paling sekitar 30 tiang,” ungkapnya.
“Sewaktu saya masih menjabat sebagai kades disamping masalah-masalah yang berkaitan dengan kebutuhan sekolah ini terutama masalah jalan dan listrik sudah sering saya suarakan dan sampaikan ke pihak2 yang punya kewenangan namun sampai hari ini belum ada realisasinya,” lanjutnya.
Dia berharap, agar kedepannya SMK Negeri 1 Ketungau Tengah mendapat perhatian dari dinas terkait.
“Sebagai masyarakat dan mewakili kawan-kawan komite, SMK negeri 1 Ketungau Tengah ini memohon dengan sangat kepada pemerintah kabupaten, propinsi atau pusat atau pihak manapun yang punya kewenangan bisa mendengar suara kami ini dan tentunya kami menunggu agar permohonan ini bisa terkabul,” tutup Thomas. [J.Wetri]
