Mediasuarapublik.com

Mengedepankan Profesional Dalam Berita Yang Seimbang Secara Aktual Dan Faktual

Home » Petani di Kediri Gelar Tradisi Sedekah Dawet Agar Hujan Segera Turun

Petani di Kediri Gelar Tradisi Sedekah Dawet Agar Hujan Segera Turun

2 min read

KEDIRI, Mediasuarapublik – Beberapa kelompok tani di wilayah Kelurahan Paron, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri menggelar tradisi sedekah dawet di sumber mata air Kembangan, Senin (6/11/2023). Tradisi ini sudah ada sejak zaman dulu dan dilakukan secara turun temurun sebagai ikhtiar mereka agar hujan segera turun.

Tradisi ini juga sebagai suatu sarana berdoa kepada Tuhan agar melimpahkan rahmat-Nya berupa hujan. Sedekah itu dilakukan dengan cara diaraknya beberapa kendil berisi dawet dan kemudian dibacakan doa-doa secara bersama-sama. Kemudian sebagian dawet dibagi-bagikan kepada warga sekitar dan para pengguna jalan, dan sebagian kecil lainnya dilarung ke sumber mata air Kembangan yang ada di desa setempat.

Ada pula dawet yang dilempar ke udara sehingga terjatuh ke tanah hingga mirip turunnya hujan. Dawet yang jatuh tersebut kemudian mengenai orang-orang yang larut dalam kegiatan tersebut.

Kepala Lurah Paron Buyung Wicaksono mengatakan, kegiatan tersebut sengaja digelar untuk mewadahi aspirasi para petani di wilayahnya.

Sebab, mereka saat ini tengah kekurangan air untuk lahan pertanian menyusul kemarau yang cukup panjang ini.

“Tahun 2023 ini kemarau cukup panjang dan lama tidak turun hujan sehingga sumber ini debit airnya berkurang. Akibatnya saat ini kami sudah kesulitan air,” ujar Buyung saat ditemui di lokasi sedekah, Senin (6/11/2023).Padahal mata air itu menurutnya merupakan sumber utama pengairan bagi 85 hektar lahan pertanian yang ada di wilayahnya.

Ada pun dawet digunakan sebagai medium kegiatan itu, menurut Lurah karena jenis makanan tradisional yang terasa manis sekaligus bentuknya yang cair. Itu mengarah pada simbolisasi fungsi air bagi kehidupan.

“Juga bermakna siapa pun bisa menyedekahkannya,” pungkasnya.

Toyib, seorang petani di Desa Paron, mengatakan, pihaknya sudah sangat mengharapkan hujan. Dengan demikian, lahan pertanian bisa kembali dimanfaatkan.

Sebab, dengan minimnya air dari sumber mata air itu, kebutuhan air untuk lahan pertanian selama ini terpaksa menggunakan bantuan mesin penyedot air.

“Dan itu kami bayar karena sistem sewa. Lima jamnya Rp 150 ribu,” ujar Toyib.Hal itu semakin menambah beban pengeluaran baginya yang otomatis akan semakin mengikis pendapatannya sebagai petani.

Oleh sebab itu, kata Toyib, para petani yang sama-sama terdampak kemarau di Desa Paron itu sepakat menggelar sedekah dawet tersebut, agar hujan segera turun.

Selain sebagai upaya meminta hujan kepada pemilik alam, kegiatan itu juga untuk melestarikan tradisi desa setempat agar tidak pudar oleh perkembangan zaman. [YW/MED]