23 September 2026

Mediasuarapublik.com

Mengedepankan Profesional Dalam Berita Yang Seimbang Secara Aktual Dan Faktual

Home » Jasad ABK KM Arupadhatu Ditemukan di Pulau Enggano, Teridentifikasi sebagai Surakman

Jasad ABK KM Arupadhatu Ditemukan di Pulau Enggano, Teridentifikasi sebagai Surakman

SERANG, Mediasuarapublik – Misteri hilangnya kapal cepat Arupadhatu 1 di perairan Selat Sunda mulai menemukan titik terang. Salah satu awak kapal, Surakman (60), ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di wilayah Pulau Enggano, Bengkulu Utara.

Surakman merupakan anak buah kapal (ABK) yang berada di dalam speedboat Arupadhatu 1 bersama dua awak lainnya dan lima jurnalis ketika kapal tersebut hilang kontak di Selat Sunda.

Jasad korban pertama kali ditemukan pada Sabtu (12/9) di kawasan Pulau Enggano. Setelah melalui proses identifikasi forensik dan pencocokan DNA dengan keluarga, jasad tersebut dipastikan merupakan Surakman.

Kapolda Banten Irjen Hengki mengatakan, informasi mengenai penemuan jasad diterima pada hari kelima pencarian. Saat itu, korban masih berstatus Mr X karena identitasnya belum diketahui.

“Pada hari Sabtu, hari kelima pencarian, kita mendapatkan informasi dari Bengkulu, bahwa di sana di Pulau Enggano, Bengkulu Utara, ditemukan seorang jenazah Mr X,” ujar Kapolda Banten Irjen Hengki dalam konferensi pers di Mapolda Banten, Serang, Rabu (23/9).

Jasad yang ditemukan kemudian dievakuasi menggunakan pesawat Cessna menuju RS Bhayangkara Polda Bengkulu untuk menjalani proses identifikasi.

Polda Banten selanjutnya berkoordinasi dengan Polda Bengkulu untuk mencocokkan data antemortem dan postmortem. Pemeriksaan juga melibatkan data dari anggota keluarga delapan orang yang berada di dalam kapal.

Hasil pemeriksaan DNA akhirnya menunjukkan adanya kecocokan dengan Surakman.

“Hasil identifikasi berdasarkan pemeriksaan DVI, secara genetik, jenazah teridentifikasi sebagai Surakman atau ABK Kapal,” kata Hengki.

Dalam konferensi pers tersebut, turut hadir Gubernur Banten Andra Soni dan Kepala Basarnas Banten Al Amrad.

Kapal Hilang Usai Meliput Erupsi Anak Krakatau

Sebelumnya, KM Arupadhatu 1 membawa lima jurnalis dan tiga awak kapal untuk melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) yang mengalami erupsi.

Kapal tersebut berangkat dari dermaga Carita, Kabupaten Pandeglang, pada Senin (7/9). Namun, setelah berada di perairan Selat Sunda, kapal kemudian kehilangan kontak.

Operasi pencarian pun dilakukan secara besar-besaran dengan melibatkan unsur SAR dari sejumlah wilayah. Tim Basarnas Banten, Lampung hingga Bengkulu dikerahkan untuk menyisir wilayah yang diduga menjadi lokasi terakhir kapal.

Namun, setelah pencarian berlangsung selama 10 hari, petugas belum menemukan keberadaan kapal maupun tanda-tanda keberadaan delapan orang yang berada di dalamnya.

Operasi SAR kemudian secara resmi dihentikan pada Kamis (17/9).

Sehari setelah operasi ditutup, keluarga para jurnalis dan awak kapal menggelar tabur bunga di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, Jumat (18/9), sebagai bentuk penghormatan dan penghormatan terakhir bagi para korban yang masih dinyatakan hilang.

Tiga Awak dan Lima Jurnalis

Selain Surakman, dua awak lainnya yang berada di dalam speedboat tersebut adalah Warta (55) yang bertugas sebagai nakhoda dan Heriyanto (49) sebagai pemandu atau guide.

Sementara itu, lima jurnalis yang berada dalam kapal tersebut adalah M Bagus Khoirunnas, Ari Basuki, Yudhis, Daus, dan Donal.

Para jurnalis tersebut berasal dari sejumlah perusahaan media, sementara sebagian lainnya bekerja sebagai jurnalis lepas.

Dalam pernyataan resminya, organisasi profesi Pewarta Foto Indonesia (PFI) menyebut sebagian besar jurnalis yang berada di dalam kapal merupakan wartawan foto.

Adapun identitas profesional para jurnalis tersebut masing-masing adalah Bagus yang merupakan Pewarta Foto Kantor Berita Antara, Ari Basuki sebagai Pewarta Foto Merdeka.com, Yudistiro sebagai Pewarta Foto iNews.id, Firman yang bekerja sebagai jurnalis Anadolu Agency, serta Donal yang merupakan jurnalis lepas.

Penemuan jasad Surakman menjadi perkembangan terbaru dalam upaya mengungkap keberadaan delapan orang yang sebelumnya hilang setelah kapal Arupadhatu 1 kehilangan kontak di perairan Selat Sunda.

Identifikasi tersebut sekaligus memberikan kepastian mengenai salah satu awak kapal yang sebelumnya masih dinyatakan hilang. [AH/Red]