Desa Kedungwaras Gandeng BBK 6 UNAIR Olah Minyak Jelantah Jadi Lilin Aromaterapi
2 min read
LAMONGAN, Mediasuarapublik — Desa Kedungwaras, Kecamatan Modo, Kabupaten Lamongan, menjadi tuan rumah kegiatan edukatif yang digelar bersama mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya dalam program Belajar Bersama Komunitas (BBK) ke-6. Kegiatan tersebut berupa pelatihan pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah, sebagai upaya mengedukasi masyarakat dalam pengelolaan limbah rumah tangga menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai ekonomi.

Pelatihan yang diikuti oleh puluhan warga, khususnya ibu-ibu PKK, berlangsung meriah dan penuh antusias. Kegiatan ini tidak hanya memberikan keterampilan praktis, tetapi juga menanamkan kesadaran pentingnya mengubah limbah menjadi peluang usaha.
Kepala Desa Kedungwaras, Moh. Nawir Gozali, menyampaikan apresiasi atas peran mahasiswa UNAIR yang telah menginisiasi pelatihan kreatif ini.
“Kegiatan seperti ini sangat dibutuhkan masyarakat desa. Minyak bekas yang selama ini dibuang begitu saja, ternyata bisa diolah menjadi lilin wangi yang menarik dan punya nilai jual. Ini bisa menjadi usaha rumahan yang menjanjikan,” ujar Nawir.
Sementara itu, Siti Faridah, istri Kepala Desa Kedungwaras, menyampaikan jika para peserta sangat antusias, mereka tidak hanya mendapatkan pengetahuan teknis, tetapi juga semangat untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan potensi ekonomi dari barang-barang yang selama ini dianggap limbah.
Dengan penuh semangat, ia mengajak para peserta untuk melihat peluang baru dari limbah rumah tangga seperti minyak jelantah.
“Minyak jelantah yang biasanya hanya jadi limbah, kini bisa menjadi lilin yang cantik dan bernilai. Yuk, manfaatkan bahan bekas agar tidak hanya menjadi sampah, tetapi bisa menjadi berkah,” ungkapnya.

Dalam sesi praktik, para mahasiswa membimbing peserta secara langsung mulai dari proses penyaringan minyak jelantah, pencampuran aroma dan warna, hingga pencetakan lilin aromaterapi dalam wadah yang menarik. Hasil karya para peserta tidak hanya estetik, tetapi juga siap dipasarkan sebagai produk lokal desa.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari misi BBK UNAIR untuk mendorong ekonomi sirkular berbasis masyarakat, dengan menjadikan limbah rumah tangga sebagai bahan dasar produk kreatif dan ramah lingkungan.
Salah satu peserta, Ibu Sari, menyampaikan bahwa pelatihan ini memberi inspirasi baru bagi warga.
“Kami jadi tahu bahwa bahan-bahan di dapur yang tak terpakai bisa dimanfaatkan. Ini ide yang sangat berguna, apalagi kalau bisa dijual,” ujarnya.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, Desa Kedungwaras menunjukkan komitmennya untuk terus berinovasi dan bersinergi dengan dunia pendidikan dalam meningkatkan kesejahteraan warganya melalui pelatihan-pelatihan produktif berbasis potensi lokal. [Yah]
