Problem Utama Wasit Liga Indonesia
2 min read
Mediasuarapublik – Keterlambatan Indonesia selama 20 tahun soal keberadaan penilai wasit atau referee assessor menjadi salah satu persoalan utama “pengadil dalam lapangan” yang ada di Indonesia.
Hal tersebut dibeberkan oleh Wakil Ketua Umum PSSI Ratu Tisha dan Anggota Komite Wasit Jimmy Napitupulu serta Purwanto.
Tisha mengatakan, Indonesia sudah terlambat sangat jauh dari negara lainnya. Saat ini jumlah referee assessor Indonesia juga masih minim.
“Referee assessor itu Indonesia punya sejak 2017, sedangkan di negara lain itu sudah ada sejak awal-awal. Setiap federasi itu harus punya referee assessor,” kata Ratu Tisha pada Senin (20/12).
“Jumlah referee assessor kita di seluruh Indonesia baru 25 orang. Jumlah ini pastinya dengan kualitas yang berbeda-beda. Kualitasnya ada yang membuat pak Jimmy teriak,” ujarnya.
Kerja utama referee assessor PSSI ini adalah mengawasi kinerja wasit di kompetisi. Mereka ini mengumpulkan semua persoalan kepemimpinan wasit di Indonesia untuk jadi bahan pembelajaran.
Menurut Purwanto, wasit yang melakukan pelanggaran tidak bisa serta merta langsung disanksi. Sebaliknya para wasit harus mendapat pembinaan agar kualitasnya meningkat.
Jika sudah diberi pembinaan, tetapi tidak berubah, sanksi akan diberikan. Di sinilah peran referee assessor sangat vital. Mereka menjadi pengontrol kualitas sepak bola Indonesia.
“Semua kan diberi kesempatan dan pembinaan. Kalau selesai nanti ditugaskan lagi. Masa salah salah terus. Enggak bisa kan,” kata Purwanto setelah acara diskusi wasit yang diadakan PSSI.
Jimmy mengambil contoh, pemain yang melakukan salah umpan atau gagal mencetak gol peluang emas, tak otomatis dipecat. Sebaliknya pemain dilatih terus. Begitu pula dengan wasit.
“Wasit pun demikian, tapi kita enggak bisa samakan dengan Jepang. Mereka profesional karena wasitnya profesional dan dikontrak. Nah di Jepang wasit dari Tokyo bisa memimpin klub dari Tokyo,” kata Jimmy. [Red]
