IRGC Peringatkan AS Usai Trump Ancam Hancurkan Iran
JAKARTA, Mediasuarapublik – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyampaikan ancaman keras terhadap Teheran dalam pidatonya di hadapan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Menanggapi pernyataan tersebut, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memperingatkan Washington agar tidak melancarkan serangan baru terhadap Iran. Teheran menyatakan tindakan militer baru dari AS justru akan berujung pada kegagalan.
Trump sebelumnya mengatakan dirinya tengah menghadapi pilihan besar dalam menentukan kebijakan terhadap Iran. Ia menggambarkan opsi tersebut sebagai upaya mencapai kesepakatan dengan Teheran atau mengambil tindakan untuk menghancurkan Republik Islam Iran.
Dilansir AFP, Rabu (23/9/2026), Trump menyebut kemungkinan tercapainya kesepakatan setelah pemilihan umum paruh waktu AS. Namun, jika tidak tercapai, ia menyatakan pilihan lain yang dapat diambil adalah menghancurkan Iran.
Pernyataan Trump tersebut kemudian mendapat respons dari jajaran pemerintahan dan militer Iran.
Menurut laporan media pemerintah Iran Press TV, IRGC menilai ancaman Washington bukanlah sesuatu yang baru. Juru bicara IRGC Hossein Mohebbi mengatakan Trump sebelumnya juga pernah menyampaikan ancaman serupa.
“Trump lupa bahwa ia pernah melontarkan ancaman sebelumnya namun tidak mampu mewujudkannya, dan kini ia kembali melontarkan ancaman baru,” ujar juru bicara IRGC, Hossein Mohebbi, sebagaimana dikutip Press TV.
Peringatan juga datang dari Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran. Mereka menyatakan Teheran akan memberikan respons militer yang lebih kuat apabila kembali mendapatkan serangan.
Dalam pernyataannya, pihak militer Iran memperingatkan bahwa serangan berikutnya akan dibalas dengan “pukulan yang jauh lebih keras, telak, dan tak terduga.”
Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran juga menegaskan bahwa pernyataan yang disebutnya sebagai “tuduhan tak berdasar dan ancaman” dari Amerika Serikat tidak semestinya dianggap sebagai bentuk kekuatan Washington, sebagaimana dilaporkan Press TV.
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf turut menyampaikan sikap keras terhadap tekanan dari Amerika Serikat. Menurut laporan media pemerintah Iran, Tasnim, Ghalibaf menegaskan Iran tidak akan menghentikan aktivitasnya ataupun menyerah menghadapi tekanan Washington.
“Kami tidak akan pernah menyerah, dan kami tidak akan melumpuhkan negara ini. Kami akan merespons dengan kekuatan, sebagaimana yang telah kami lakukan selama ini, dan membuat musuh tak berdaya di segala bidang,” tegas Ghalibaf.
Trump Bicara Opsi Hancurkan Iran
Sebelumnya, Trump dalam pidatonya di Majelis Umum PBB secara terbuka membicarakan kemungkinan mengambil langkah ekstrem terhadap Iran.
Ia mempertanyakan apakah hubungan kedua negara masih dapat diarahkan menuju kesepakatan yang memungkinkan Iran kembali membangun negaranya atau justru mengambil langkah untuk menghancurkan Republik Islam tersebut.
“Akankah kesepakatan dicapai dengan Iran yang memungkinkan mereka bangkit kembali dan membangun negara yang jauh lebih hebat daripada sebelumnya-mungkin salah satu yang terhebat di Timur Tengah atau bahkan di dunia?” tanya Trump, dilansir CNN, Rabu (23/9/2026).
Trump kemudian menyampaikan pertanyaan kedua yang mengarah pada kemungkinan tindakan militer terhadap Iran.
“Atau haruskah saya menghancurkan Republik Islam itu dengan cepat, tanpa pernah memberi mereka kesempatan untuk membunuh serta menghancurkan orang dan negara lagi?” tanya Trump lagi.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump saat berpidato di hadapan para pemimpin negara anggota PBB. Dalam pidatonya, Trump juga mengeluarkan ancaman keras terhadap Iran dengan menyatakan bahwa negara tersebut dapat dicampakkan ke neraka tanpa kesempatan untuk selamat.
Pernyataan Trump dan respons keras dari Teheran menambah ketegangan dalam hubungan kedua negara, yang dalam beberapa waktu terakhir kembali menjadi sorotan dalam isu keamanan dan geopolitik di kawasan Timur Tengah. [AH/Red]
