BNNK Tulungagung Ungkap 30 Persen Siswa SMP Konsumsi Zat Adiktif
2 min read
TULUNGAGUNG, Mediasuarapublik – Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Tulungagung menemukan sebanyak 30 persen siswa sekolah menengah pertama (SMP) di Tulungagung mengkonsumsi zat adiktif.
Berdasarkan temuan tersebut, diyakini jika penggunaan zat adiktif pada kalangan pelajar dikarenakan lingkungan.
Kepala BNNK Tulungagung, Rose Iptriwulandhani mengatakan, kasus penggunaan zat adiktif masih marak di kalangan masyarakat Tulungagung.
Bahkan mirisnya lagi, pihaknya juga mendapatkan temuan penggunaan zat adiktif tersebut terhadap siswa SMP di Tulungagung.
Jumlahnya sendiri tentunya tidak sedikit, sekitar 30 persen dari total siswa SMP merupakan pengguna zat adiktif. Temuan tersebut didapat setelah melalukan tes urine dadakan pada masing-masing SMP di Kabupaten Tulungagung.
“Kami temukan 30 persen siswa SMP di Tulungagung ini rupanya mengonsumsi zat adiktif. Angka ini bisa dibilang tidak sedikit juga” kata Rose Iptriwulandhani dikutip, Senin (05/6).
Rose menjelaskan, sebenarnya sidak dadakan tersebut ditujukan untuk mendeteksi dini dan melakukan antisipasi apabila terdapat temuan maupun indikasi penyalahgunaan narkoba bagi para pelajar. Hanya saja, hasil sidak yang didapat cukup mengejutkan petugas lantaran jumlahnya tergolong banyak.
Diketahui, zat adiktif sendiri sebenarnya bisa berasal dari berbagai macam hal seperti rokok, minuman keras (Miras) atau justru yang paling buruk narkotika jenis pil koplo.
Pihaknya tentu tidak menampik jika peredaran barang haram tersebut sudah mulai menjamah pelajar SMP di Tulungagung.
“Temuan ini tentunya kita komunikasikan dengan masing-masing sekolah. Jadi ketika berhasil terdeteksi, kami bisa melakukan intervensi kepada adik-adik yang sudah terpapar penyalahgunaan narkoba,” jelasnya.
Penggunaan zat adiktif bagi pelajar SMP, ungkap Rose, saat ini masih tergolong coba pakai yang mana diawali oleh rasa penasaran terhadap berbagai macam hal. Hal ini didasari lantaran kondisi psikologis pelajar SMP yang masih dalam tahap berkembang untuk mencari jati dirinya.
Hal itu terkadang mendorong rasa ingin tahu pelajar tersebut untuk mencoba berbagai macam hal terutama dalam hal konsumsi zat adiktif. Selain rasa penasaran, hal itu juga dikarenakan adanya pengaruh lingkungan terutama teman mengajak untuk mencoba berbagai hal.
“Pada BNN Pusat sendiri, 80 persen penggunaan narkotika dipengaruhi lingkungan, tidak terkecuali yang terjadi pada Kabupaten Tulungagung,” ungkapnya.
Dari temuan tersebut, Rose mengaku khawatir, mengingat Indonesia saat ini sedang dalam kondisi darurat narkoba. Maka dari itu, perlu peran aktif semua belah pihak elemen masyarakat untuk memberantas peredaran narkotika untuk meminimalkan bertambahnya pecandu.
Selain itu, para orang tua diminta juga sering melakukan pengawasan terhadap anaknya agar terhindar dari barang haram narkoba. Maka dari itu, para orang tua harus sering bersinggungan dengan anaknya untuk memastikan agar mereka tidak terjerumus ke dalam penggunaan barang haram.
“Para pemuda inikan nantinya akan jadi penerus bangsa, maka dari itu sebisa mungkin mereka harus terhindar dari penggunaan narkotika demi kebaikan bersama,” pungkasnya. [Andk/Red]
