821 IRT di Tulungagung Penderita HIV Hidup Dibawah Garis Kemapanan
2 min read
TULUNGAGUNG, Mediasuarapublik – Sebanyak 821 orang ibu rumah tangga (IRT) di Tulungagung positif terjangkit human immunodeficiency virus (HIV). Jumlah tersebut, merupakan akumulasi dari jumlah total sekitar 3.381 penderita HIV di Bumi Marmer itu.
Malangnya lagi, Kondisi perekonomian dari ratusan IRT positif HIV tersebut jauh di bawah garis kemapanan. Tidak sedikit dari mereka mendapatkan penghasilan di bawah Rp 1 juta setiap bulan.
Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Tulungagung, Ifada Nur Rohmania mengatakan, kondisi perekonomian dari IRT positif HIV jauh di bawah garis kemapanan.
Menurut dia, mayoritas IRT tersebut memiliki penghasilan di bawah Rp 1 juta per bulan.
“Banyak dari mereka itu yang menyambung hidup dengan bekerja sebagai buruh cuci, yang dalam satu hari hanya mendapatkan sekitar Rp 20 ribu,” jelasnya dikutip, minggu (14/5).
Bahkan, berdasarkan data, dari total jumlah IRT positif HIV hanya 20 persen yang memiliki penghasilan per bulan.
Dia menjelaskan, untuk bertahan hidup, para penyintas dari golongan IRT ini mengandalkan usahanya dalam berdagang. “Banyak yang berdagang, seperti dagang sosis gitu. Kita juga lagi merigidkan data untuk penghasilan dari IRT ini tadi. Bahkan, penghasilan yang di bawah RP 500 ribu masih ada,” ucapnya.
Tidak sedikit juga yang terpaksa menjadi single parent atau orang tua tunggal yang harus menanggung beban keluarga secara mandiri. Diketahui, ada 2.333 penderita HIV berusia produktif sekitar 25 hingga 50 tahun. “Ya mungkin sekitar itu. Memang kondisi mereka itu terkait perekonomian sungguh memprihatinkan, jadi sangat perlu untuk kita bantu,” paparnya.
Terkait perolehan penularan virus dari IRT tersebut, dia mengaku, sebagian besar IRT positif HIV ini akibat ditularkan oleh suaminya. Banyak cerita yang melatarbelakangi kasus tersebut. Namun, yang paling dominan yakni ketika sang istri terpaksa pergi bekerja menjadi pekerja migran Indonesia (TKW).
“Nah, ketika ditinggal pergi kerja itu suaminya justru jajan sama perempuan-perempuan lain, sehingga suaminya ini tertular virus. Lalu waktu istrinya pulang, berhubunganlah dengan istrinya,” ungkapnya.
Kemudian, untuk meminimalkan kasus serupa, dia menegaskan bahwasanya ketika tidak melakukan program hamil maka penting untuk berhubungan seksual dengan menggunakan pengaman, sekalipun itu pasangan suami istri. Penggunaan pengaman seperti kondom juga dapat menyehatkan organ intim dari kedua belah pihak.
“Lebih baik memang harus menggunakan kondom. Apalagi ketika pasangan suami istri itu terpisah cukup lama,” tutupnya. [AM/Andk]
