Musim Hujan 2026 Terlambat Akibat El Nino, tapi Puncaknya Tetap Sama
JAKARTA, Mediasuarapublik – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan adanya anomali pada siklus cuaca akhir tahun ini. Kedatangan musim hujan di Indonesia diprediksi lebih lambat dari biasanya, yakni baru dimulai pada awal November 2026. Namun, masyarakat diimbau waspada karena intensitas hujan akan langsung memasuki fase puncak.
Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachri Radjab, memaparkan bahwa meski jadwal turunnya hujan bergeser, waktu puncaknya tidak berubah dari siklus normal. “Ketika masuk musim hujan, langsung puncak,” kata Fachri, Jumat (16/10/2026).
Fase puncak ini diperkirakan berlangsung pada Desember 2026 hingga Februari 2027. Transisi cuaca yang cepat ini membawa risiko tersendiri, terutama terkait ancaman bencana alam. “Nah, ini perlu yang menjadi kewaspadaan potensi bencana hidrometeorologi basah,” sambung Fachri. Beberapa bencana yang rawan terjadi meliputi banjir, banjir bandang, hingga tanah longsor.
Alasan di Balik Fenomena Hujan 2026
Terkait penyebab mundurnya awal musim hujan, Fachri menyebut fenomena El Nino sebagai faktor utama. Kondisi ini membuat pembentukan awan dan curah hujan di sejumlah wilayah menurun drastis pada masa peralihan. “Sehingga akumulasi curah hujan tidak memenuhi kriteria penetapan awal musim hujan,” jelas Fachri.
Uniknya, meski datang terlambat, puncaknya tetap terjadi sesuai jadwal. Hal ini karena pengaruh El Nino perlahan memudar saat memasuki masa puncak, digantikan oleh Intertropical Convergence Zone (ITCZ) atau zona pertemuan angin yang memicu awan hujan. “Pergerakan ITCZ mengikuti siklus musiman dan tidak secara langsung ditentukan oleh El Nino,” paparnya.
Sebaran Wilayah dan Puncak Hujan
Keterlambatan musim hujan ini akan dirasakan oleh mayoritas daerah di Indonesia. “Sebagian besar wilayah Indonesia sekitar 61,08 persen luas daratan Indonesia akan memasuki musim penghujan yang mundur dibanding normalnya,” ucap Fachri. Persentase ini setara dengan 529 Zona Musim (ZOM) dari data BMKG.
Hujan akan menyapa wilayah Sumatera bagian utara lebih dulu sebelum merata ke daerah lainnya pada bulan November dan Desember 2026. Namun, fase puncaknya tidak akan terjadi serentak di seluruh wilayah.
“Puncak musim hujan akan tetap terjadi di Desember, Januari, Februari,” ujar Fachri. Rincian datanya mencatat bahwa 155 ZOM akan mencapai puncaknya pada Desember 2026, disusul 162 ZOM pada Januari 2027, dan 190 ZOM pada Februari 2027.
Menutup penjelasannya, Fachri meminta masyarakat untuk proaktif memantau peringatan cuaca dan bersiap menghadapi potensi bencana yang mengintai. “Kesiapsiagaan menghadapi dampak musim hujan berupa potensi bencana hidrometeorologi basah, seperti banjir, banjir bandang dan longsor perlu terus ditingkatkan,” tutupnya. [AH/Red]
