Perantau di Surabaya Keluhkan Tak Bisa Nyoblos Saat Pemilu Nanti
2 min read
SURABAYA, Mediasuarapublik – Jelang Pemilihan umum (Pemilu) 2024 banyak perantau di Surabaya yang tak bisa menggunakan hak suaranya. Pencoblosan digeber pada Rabu, 14 Februari 2024 mendatang. Sedangkan pada, Sabtu, 10 Februari 2024 kemaren, merupakan hari terakhir kampanye Pilpres 2024.
Sayang, pesta demokrasi untuk seluruh masyarakat Indonesia itu tidak bisa dirasakan oleh semua orang. Masih banyak perantau yang tidak bisa menggunakan hak pilih. Mereka tidak bisa mencoblos di kota rantau. Termasuk di Surabaya.
Di antara mereka, ada Widi, karyawan swasta yang berasal dari Magelang, Jawa Tengah. Ia sudah merantau selama dua tahun di Kota Pahlawan. Ia tidak bisa pulang di hari coblosan. Tapi juga tidak bisa menggunakan hak pilih di perantauan.
“Udah ngurus sejak kemarin Januari, tapi katanya harus ada surat tugas dari kantor dan surat apa gitu, semacam pengantar,” ungkap Widi.
“Karena ribet, saya akhirnya lepas. Kan kerja. Bolak balik ke kantor urus ya harus ijin-ijin,” lanjut pria berusia 25 tahun itu.
“Di berita saya baca tanggal 7 Februari kemarin terakhir pendaftaran bagi orang luar kota. Saya udah lama ajuin, tapi gak semudah berita itu,” lanjutnya.
Widi sebenarnya merupakan anak muda yang melek politik. Kendati sudah memiliki pilihan, tapi kenyataan berkata lain. Dia berharap ke depan pemerintah bisa memudahkan warga menggunakan hak politiknya.
Senada dengan Widi, ada Silvia, asal Nusa Tenggara Timur mengaku tidak mencoblos pada Pemilu 2024 besok. Silvia mengaku bingung cara urus pindah pilih. Meskipun dia ngekos bersama anaknya, namun pengakuannya tidak mudah.
“Anak kerja, pagi sampai malam. Saya urus pindah bingung juga. Ya sudah pasrah saja,to,” kata Silvia, 27 tahun.
“Tapi saya suka dengan satu paslon. Bawa doa saja, to. Saya percaya Tuhan kasih terbaik,” ujar dia optimis.
Lain lagi dengan Julian, 24. Warga Bali itu mengaku tidak menemui kesulitan mengurus kepindahan Tempat Pemilihan Suara (TPS). Lulusan Universitas Airlangga ini mengaku urus pindah pilih di kelurahan tempatnya kos.
“Mudah, kok. Urus tanggal 12 bulan lalu. Dokumen yang dibawa Kartu Keluarga, KTP, dan form A1 pindah pilih yang sudah dikasih sebelumnya,” jelasnya.
Yuli, 37, warga Surabaya mengaku dinamika politik di Indonesia membuatnya sedih. Meski begitu, penjual kopi tersebut mengaku tetap berpartisipasi dengan semangat. Ia komitmen menyukseskan Pemilu 2024.
“Yang jelas saya gak mau kalau golput. Tetep milih meskipun begini keadaan. Sampean juga harus, lho,” ujarnya.
Lain lagi dengan Anik, 55, seorang ibu rumah tangga. Saat ditanya partisipasi dan persiapan Pemilu justru menanyakan hal lain. Menurutnya, siapa pun Presidennya, hidup tetap susah.
“Sampean kasih duit tak coblose. Yang mana, ngikut,” jawab dia singkat, namun serius.
Sementara itu, distribusi logistik Pemilu 2024 terus dikebut. KPU Surabaya mentargetkan distribusi selesai pada Sabtu, 10 Februari 2024 di seluruh PPK yang tersbar di 8.167 TPS.”Insyaallah hari ini selesai,” ujar Ketua KPU Surabaya Nur Syamsi. [RM/MED]
