Pentingnya Dukungan Keluarga Bagi Lansia
2 min read
SURABAYA, Mediasuarapublik – Gelaran Dokter UNAIR TV membahas tentang perawatan dan pentingnya dukungan keluarga bagi lansia.
Pada acara yang bertajuk “Cegah Masalah Kesehatan pada Usia Lanjut” tersebut, menghadirkan dr Novira Widajanti dan Dr Erikavitri Yulianti sebagai narasumber.
Di Indonesia sendiri, kategori individu sebagai lansia adalah jika ia telah menginjak usia 60 tahun. Hal ini sebagaimana tercantum dalam UU Kesehatan Nomor 13 tahun 1998. Pada fase lansia, setiap individu akan mulai mengalami proses aging (penuaan). Proses ini biasanya diiringi dengan proses degeneratif di mana fungsi organ-organ tubuh akan mengalami penurunan.
“Proses degeneratif pasti terjadi. Tapi apakah proses ini akan berjalan lebih cepat atau tidak, akan berbeda-beda antara individu satu dengan yang lain,” terang dr Novita.
Secara fisik, lanjut dr Novita, lansia biasanya akan mengalami permasalahan-permasalahan seperti hipertensi, diabetes, jantung koroner, hingga osteoarthritis. Di samping itu, tak sedikit dari para lansia yang juga mengalami penurunan fungsi kognif seperti demensia.
Peran Penting Keluarga
Mengingat berbagai kondisi yang lansia hadapi, dalam kesempatan ini dr Erikavitri menekankan peran penting keluarga dalam memberi dukungan terhadap para lansia. “Kita harus ingat, sampai akhir hayatnya lansia itu merupakan bagian dari keluarga sehingga keluarga itu tetap punya peran,” tegas dokter spesialis kesehatan jiwa itu.
Dr Erikavitri menekankan bahwa dukungan keluarga harus senantiasa diberikan mengingat proses penuaan menimbulkan penurunan fungsi organ tubuh serta kekuatan fisik.
“Dengan memberikan dukungan, paling tidak membantu kesulitan. Kalau lansia itu sudah mengalami suatu kesulitan, (pemberian dukungan, Red) akan membuat hidup lansia itu tetap berkualitas,” terang dr Erikavitri.
Pemberian dukungan terhadap lansia ini dapat dimulai dengan proses komunikasi terhadap lansia. dr Erikavitri menegaskan, komunikasi harus tetap dilakukan walaupun lansia mengalami penurunan fungsi pendengaran atau bahkan mengalami kepikunan.
“Bicaranya enggak boleh terlalu cepat, harus cukup keras tapi enggak teriak-teriak. Dan yang paling penting bicaranya itu dengan bahasa yang sederhana tapi enggak boleh panjang-panjang,” saran dr Erikavitri.
Hal lain yang tak kalah penting adalah mengajak lansia untuk tetap berkegiatan bersama anggota keluarga lain. Kegiatan ini utamanya dapat berkaitan dengan hobi anggota keluarga lansia sebab akan lebih mudah untuk melakukan kegiatan yang berhubungan dengan hobi mereka.
“Keluarga terlibat dalam aktivitas lansia itu suatu bentuk dukungan riil yang sangat bermanfaat bagi lansia. “Harapan kita, seorang individu usia lanjut tidak hanya bertambah panjang usianya tapi juga dengan kualitas hidup baik, tetap sehat, serta tetap produktif,” ujar dr Erikavitri. [Rev/Red]
