Kenali Tuberkulosis Laten, Jenis TB yang Muncul Tanpa Gejala
2 min read
SURABAYA, Mediasuarapublik – Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang umumnya menyerang sistem pernapasan manusia. Bersumber dari bakteri Mycobacterium tuberculosis, penyakit ini dapat ditularkan lewat percikan dahak penderita.
Diperkirakan sekitar 5-10 persen orang yang melakukan kontak aktif dengan penderita serta memiliki daya tahan tubuh yang kurang akan terinfeksi bakteri TB. Selain itu, banyak pula orang yang telah melakukan kontak langsung dengan penderita namun tidak sampai mengalami TB aktif. Inilah yang disebut dengan TB Laten.
“Sekitar 5-10 persen itu akan menjadi sakit. Sisanya gimana? Ini yang dinamakan dengan TB Laten. (Misal, Red) saya setiap hari ketemu dengan pasien TB aktif tapi saya tidak sakit,” terang dr Ariani Permatasari SpP (K) FAPSR, staf pengajar di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga pada gelaran Dokter UNAIR TV dikutip, Kamis (30/3).
Tidak Timbul Gejala
TB Laten, lanjut dr Ariani, terjadi akibat sistem pertahanan tubuh seseorang tidak mampu mengeliminasi kuman TB secara sempurna. Namun demikian, ia mampu melakukan kontrol sehingga kuman TB tersebut tidak menimbulkan gejala-gejala TB seperti batuk lebih dari dua minggu, nyeri dada dan sesak, serta penurunan nafsu makan.
“Untuk TB Laten ini kan kumannya di bawah kontrol sehingga tidak ada gejala, tidak menulari, kemudian hasil pemeriksaan dahaknya pun negatif, pemeriksaan fotorontgennya juga normal karena dia belum sakit,” jelas dr Ariani. Walaupun demikian, tidak menutup kemungkinan penderita TB Laten ini akan berpotensi menjadi penderita TB aktif dalam kurun waktu lima tahun sejak ia terinfeksi bakteri TB.
Dalam kesempatan itu, dr Ariani juga menyampaikan bahwa di Indonesia terdapat program Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi orang-orang dengan kondisi tertentu. Secara program, dr Ariani menyatakan bahwa terdapat tiga kelompok sasaran yang memperoleh TPT yaitu orang dengan HIV/AIDS, orang yang melakukan kontak erat dengan pasien TB aktif yang terkonfirmasi secara bakteriologis, serta kelompok berisiko seperti orang dengan daya tahan tubuh yang turun dan kelompok komunitas yang tinggal bersama seperti di asrama atau barak militer.
Pemberian TPT ini salah satunya bertujuan untuk mencegah orang dengan TB Laten tidak sampai menjadi penderita TB aktif. “Kalau TB Laten ini kan tujuannya melindungi orang tersebut tidak berkembang jadi sakit TB. Jadi, dengan pemberian TPT ini diharapkan dia bisa melindungi orang tersebut tidak berkembang jadi sakit TB bahkan proteksinya 3-5 tahun bisa melindungi,” tutur dr Ariani.
Di samping itu, dr Ariani juga mengimbau penderita TB Laten untuk menjaga pola hidup sehat agar daya tahan tubuh tetap terjaga. “Jaga daya tahan tubuh supaya tidak berkembang menjadi TB aktif, penuhi nutrisi yang bagus, serta olahraga dan istirahat cukup,” pungkasnya. [Rev/Red]
