16 Juni 2026

Mediasuarapublik.com

Mengedepankan Profesional Dalam Berita Yang Seimbang Secara Aktual Dan Faktual

Home » Nahdlatul Ulama Memasuki Abad Kedua

Nahdlatul Ulama Memasuki Abad Kedua

3 min read

SIDOARJO, Mediasuarapublik – Nahdlatul Ulama (NU) di tahun 2023 ini sudah resmi memasuki abad kedua, hal tersebut ditandai dengan gelaran resepsi satu abad yang digelar pada Selasa (7/2/2023) di Sidoarjo. Momentum abad kedua NU ini diharapkan menjadi kebangkitan bagi Organisasi Muslim (Ormas) terbesar di Indonesia bahkan terbesar di dunia.

Presiden Joko Widodo mengatakan NU sebagai Organisasi Islam terbesar diharapkan terus memperkokoh keislaman dan keindonesiaan, meningkatkan kesejahteraan umat, serta membangun masa depan Indonesia yang maju dan bermartabat.

”Memasuki abad kedua, insya Allah NU akan tumbuh semakin kokoh, menjadi teladan dalam keberislaman yang moderat, memberikan contoh hidup adab Islam yang baik, menjunjung akhlakul kharimah dan adat ketimuran, tata karma, ungah ungguh, etika yang baik ,dan adab yang baik,” ujar Presiden dalam sambutannya saat membuka Resepsi Puncak Satu Abad NU di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (7/2/2023).

Sebagai tanda peluncuran memasuki abad kedua usia NU, Presiden memukul beduk digital didampingi oleh Wakil Presiden Ma’ruf Amin, Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar, dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf. Turut hadir dalam acara tersebut antara lain Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla, sejumlah menteri Kabinet Indonesia Maju, serta sejumlah ketua umum partai politik dan kepala daerah.

Presiden berharap, NU terus menjaga toleransi, persatuan, kegotongroyongan, dan terus mengikuti perkembangan zaman. Sebagai organisasi Islam terbesar di dunia, NU juga dinilai layak berkontribusi untuk masyarakat internasional. Pemerintah pun sangat menghargai upaya PBNU untuk ikut membangun peradaban dunia yang lebih baik dan mulia.

Sebagai organisasi Islam yang mengakar kuat di masyarakat, NU telah terbukti mampu menjaga ketahanan masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan. Tantangan tersebut terutama dalam menghadapi pandemi Covid-19 dan dalam menghadapi hantaman gerakan-gerakan radikal, termasuk menjaga diri dari politik identitas dan ekstremisme. Selama satu abad pertama pun, NU dianggap telah memberikan warna yang luar biasa untuk ibu pertiwi Indonesia.

”Keislaman dan keindonesiaan, keislaman dan kebangsaan, persatuan dan kesatuan, serta kerukunan dalam keberagaman,” ujar Presiden.

Di tengah gelombang perubahan, Presiden mengingatkan agar NU menjadi bagian terdepan dalam membaca gerak zaman, membaca perkembangan teknologi dan transformasi ekonomi, serta menjaga tatanan sosial yang adil dan beradab. Oleh sebab itu, NU agar merangkul dan memberi perhatian serius kepada generasi muda supaya tetap mengakar kuat kepada tradisi dan adab. NU melalui lembaga pendidikan yang dimiliki diharapkan mempersiapkan kaum nahdliyin muda yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga mampu menjadi generasi profesional dan unggul.

KH Yahya Cholil Staquf atau akrab disapa Gus Yahya mengatakan, satu abad pertama NU merupakan abad riyadhah (melatih diri) dan abad tirakat (usaha) dari para wali, kiai, dan segenap warga pencinta NU. Mereka dalam keadaan apa pun tidak pernah berhenti meyakini bahwa berkah NU adalah bekal masa depan yang lebih mulia bagi kita semua.

”Tirakat satu abad menjelma berkah raksasa, tirakat satu abad mendigdayakan NU. Hari ini, kita melangkahkan kaki memasuki gerbang abad kedua NU. Tidak ada yang lebih patut untuk kita lakukan pada kesempatan seperti ini selain bersyukur kepada anugerah ilahi,” katanya.

KH Miftachul Akhyar mengatakan, memasuki abad kedua, NU diharapkan menjadi organisasi yang sistemik dan satu komando. Selain itu, warga nahdliyin perlu menata mental yang lebih kuat sehingga tidak mudah terbawa arus pihak luar. NU harus menegaskan prinsip, kepribadian, mental, dan semangat dalam melakukan kebaikan.

”Kita harus punya hati dan otak dobel ibarat mobil punya dua gardan yang siap menggerakkan seluruh anggotanya, elemen-elemennya, dan untuk mendapatkan energi kekuatan di dalam memasuki abad kedua ini,” tuturnya.

Ketua Panitia Harlah Satu Abad NU Erick Tohir mengaku sangat bersyukur karena hari ini adalah acara puncak dari rangkaian peringatan hari lahir Nahdlatul Ulama yang ke-100 tahun. Beberapa acara di antaranya dihadiri dan dibuka langsung oleh Presiden Jokowi.

Dia mengatakan sebagai organisasi Islam terbesar, NU sudah berdiri melintas zaman mulai masa penjajahan, kemerdekaan, reformasi hingga era digital. NU tetap relevan dan dicintai. Para tokoh NU pendahulu telah menciptakan fondasi yang kokoh. Ia pun berharap agar NU dapat memelihara nilai dan tradisi Islam Nusantara untuk generasi penerus bangsa.

Erick yang mengutip hasil jajak pendapat Kompas menyampaikan, ada 71,8 persen masyarakat menganggap NU telah turut memperkuat nilai-nilai kebangsaan Indonesia. Sementara 81 persen masyarakat Indonesia yakin dan sangat yakin NU akan memberi manfaat yang semakin baik untuk NKRI. ”Artinya, energi positif NU harus terus dipertahankan,” ujarnya. [**/FM]