Kerusuhan Usai Laga Arema-Persebaya Tewaskan 130 Orang
4 min read
MALANG, Mediasuarapublik – Jumlah korban tewas dalam kerusuhan usai laga Arema FC – Persebaya di Malang, Jawa Timur, pada Sabtu (1/10) malam, mencapai 120 orang lebih dan dan puluhan lainnya luka-luka.
Kapolda Jawa Timur Irjen Pol. Nico Afinta mengkonfirmasi bahwa “dalam kejadian tersebut telah meninggal 127 orang, dua di antaranya anggota Polri. Dari 125 orang, yang meninggal di stadion sekitar 34 orang.” Jelas Nico saat melakukan konferensi pers pada Minggu pagi (2/10).
Kabar terbaru dari penelusuran Tim Redaksi SKH Suara Publik, Kadinkes Kabupaten Malang Wiyanto Widodo mengungkapkan jumlah korban terbaru Tragedi Kanjuruhan. Kini, 130 orang dinyatakan meninggal dunia. “Meninggal dunia terakhir 130 orang per pukul 08.32 WIB,” Papar Wiyanto.
Lebih jauh Nico Afinta menjelaskan kejadian tersebut bermula dari laga sepak bola antara Arema FC melawan Persebaya yang berakhir dengan kekalahan tuan rumah Arema dengan skor 2:3. Para pendukung Arema FC – yang dikenal sebagai Aremania – yang berada di tribun akhirnya merangsek ke lapangan untuk mengejar pemain dan tim Arema.
Petugas yang mengamankan pertandingan itu berupaya mengimbau Aremania untuk kembali ke tribun, tetapi tidak diingahkan. “Tidak diketahui kenapa massa semakin anarkis sehingga menyebabkan dua petuas polisi meninggal dunia. Petugas kemudian melakukan tembakan gas air mata ke arah massa,” demikian petikan keterangan pers Polda Jawa Timur.
“Mereka pergi keluar ke satu titik di pintu keluar, kalau enggak salah itu pintu 10 atau pintu 12. Kemudian terjadi penumpukan, di dalam proses penumpukan itulah terjadi sesak nafas, kekurangan oksigen, yang oleh tim medis dan tim pergabungan ini dilakukan upaya penolongan yang ada di dalam stadion,” tambah Nico Afinta.
Video dari berita lokal memperlihatkan massa berlarian ke lapangan dan juga gambar-gambar kantong-kantong jenazah.
Badan pengawas sepak bola dunia, FIFA merincikan dalam regulasi keamanan bahwa senjata api ataupun “gas pengendali massa” tak boleh dibawa atau digunakan oleh petugas atau polisi.
Polda Jawa Timur belum segera merespons permintaan untuk berkomentar mengenai apakah mereka mengetahui regulasi semacam itu.
Komisi HAM Indonesia berencana untuk menyelidiki keamanan di lapangan, termasuk penggunaan gas air mata, kata komisionernya kepada Reuters.
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Mahfud MD, mengatakan dalam sebuah unggahan di Instagram bahwa stadion itu terisi di luar kapasitasnya. Ia mengatakan, 42.000 tiket dikeluarkan untuk stadion yang hanya bisa menampung 38.000 orang.
Sejumlah kerusuhan dalam pertandingan sepak bola pernah terjadi di Indonesia. Persaingan ketat antar-klub terkadang memicu kekerasan di kalangan para pendukung.
Menpora Sesalkan Insiden
Dilansir dari VOAIndonesia, Menteri Pemuda dan Olahraga Zainudin Amali menyesalkan insiden ini. “Saya minta PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) dan LIB (Liga Indonesia Baru) menyelidiki insiden ini,” tegasnya.
Menpora juga menyampaikan rasa prihatin dan belasungkawa dengan jatuhnya begitu banyak korban jiwa. “Seharusnya ini tidak boleh terjadi… Saya sangat prihatin, apalagi karena penyebabnya tidak terima tim-nya kalah. Kan tidak boleh seperti itu. Ini olahraga, ini pertandingan, yang hari ini bisa menang, besok bisa kalah. Harus diberi pengertian pada penonton tentang hal ini. Harus disadarkan bahwa pertandingan olahraga, baik sepak bola, atau olahraga apapun, ada yang menang dan ada yang kalah. Apapun kondisinya, harus mau menerima,” paparnya.
Sementara itu dilansir dari KompasTV, Zainudin mengatakan kementerian akan mengevaluasi ulang keamanan dalam pertandingan sepakbola, termasuk mempertimbangkan untuk melarang penonton di dalam stadion.
BRI Liga 1 telah menangguhkan pertandingan selama satu minggu setelah terjadi kerusuhan usai laga antara Arema FC dan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, pada Sabtu (1/10).
Menurut pernyataan liga itu, terdapat korban tewas dan kerusakan signifikan di sekitar stadion itu.
Percepat Identifikasi Korban
Sementara itu Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia Polri Irjen Pol. Dedi Prasetyo mengatakan saat ini Polda Jatim sedang bekerja sama dengan PT. Liga Indonesia Baru sebagai operator pertandingan dan pemangku kepentingan terkait.
“Tim Dokkes Polri siang ini akan berangkat ke Malang untuk back up tim DVI Polda Jatim dan dokter setempat guna percepatan identifikasi korban dan fokus memberikan pertolongan medis kepada korban yang dirawat di beberapa rumah sakit,” katanya saat diwawancarai VOA melalui telepon.
PSSI mengatakan akan memulai penyelidikan atas kerusuhan pertandingan itu. Baik PSSI maupun BRI Liga 1 belum mengonfirmasi jumlah korban tewas. Namun, berbagai laporan media yang mengutip kepolisian setempat menyebutkan jumlah korban tewas mencapai 127 orang.
“Keputusan menghentikan kompetisi kami umumkan setelah kami mendapatkan arahan dari Ketua Umum PSSI. Ini kami lakukan untuk menghormati semuanya dan sambil menunggu proses investigasi dari PSSI,” kata Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru (LIB), Akhmad Hadian Lukita seperti dikutip Reuters. LIB adalah penyelenggara kompetisi BRI Liga 1.
BRI Liga 1 adalah kompetisi sepak bola strata atas yang diikuti oleh 18 klub anggota PSSI.
Kerusuhan Sepak Bola Terburuk
Insiden di Stadion Kanjuruhan, Malang merupakan merupakan salah satu insiden stadion dengan korban terbanyak di dunia. Pada April 1989, sebanyak 96 pendukung Liverpool tewas berdesak-desakan di Stadion Hillsborough di Sheffield.
Indonesia akan menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA untuk usia 20 tahun ke bawah pada Mei dan Juni pada tahun depan. Indonesia juga merupakan satu dari tiga negara yang mengajukan diri untuk mengadakan Asian Cup tahun depan, setelah China mundur sebagai tuan rumah. [FM/Red]
